Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Wednesday, January 31, 2007

Diare dan Sulitnya Akses Air Bersih

Siapa yang tidak pernah terserang diare? Kebanyakan di antara kita kadang mengalaminya, namun tidak sedikit yang meremehkan penyakit ini. Padahal, kenyataannya diare itu bisa mematikan.

Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan, dari 1.000 bayi yang lahir, 50 di antaranya meninggal dunia karena diare. Di seluruh dunia, setiap tahun 1,6 juta anak meninggal dunia karena diare. Ini artinya setiap 30 detik, satu anak meninggal dunia karena sakit perut ini.

Diare bukan sembarang sakit perut. Penyakit ini menyerang anak-anak karena mereka biasanya mengonsumsi air minum yang terkontaminasi kotoran manusia.

"Seorang anak balita di Indonesia bisa terkena diare satu- dua kali dalam setahun," kata I Wayan Widaya, Kepala Subdit Diare dan Penyakit Pencernaan Departemen Kesehatan, dalam diskusi yang diselenggarakan oleh USAID-Environment Services Program (ESP) dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bagi masyarakat miskin perkotaan, air bersih adalah sesuatu yang terbilang mewah. Karena tidak bisa mengakses air bersih inilah, mereka terpaksa menggunakan air sungai untuk segala keperluan. Termasuk mandi, buang air, dan bahkan mencuci pakaian dan mencuci peralatan dapur, seperti yang dilakukan ibu-ibu di Manggarai Utara, Jakarta Selatan, yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.

Mereka hanya membeli air untuk minum dan masak. Untuk satu ember air, mereka harus membayar Rp 1.000. Harga ini terbilang mahal bagi mereka.

Ati (29), warga RT 01 RW 12 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, setiap hari mau tidak mau terpaksa membeli air. Begitu pun Suherni, yang tinggal di gang sempit itu, selama dua tahun ini juga kesulitan mengakses akses air bersih.

Setiap hari Ati membeli satu gerobak air yang terdiri atas enam jeriken. Setiap jeriken dihargai Rp 250, sehingga untuk satu gerobak ia harus membayar Rp 1.500. Air ini ia pakai untuk mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, minum, dan mandi. Terkadang ia mandi dan buang air besar di MCK (sarana untuk mandi, cuci, dan kakus) umum yang ada di dekat rumahnya. Setiap kali datang ke MCK, ia harus membayar Rp 500.

Suherni yang tinggal di RT 01, RW 12 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, dalam seminggu harus merogoh kocek Rp 20.000 untuk membeli air keperluan sehari-hari. Ia tidak bisa memakai air sumur karena umumnya sumur di wilayah Penjaringan agak berbau.

Warga di Penjaringan memang tidak mengakses air sungai karena sungai yang ada di sekitar mereka mampet, berwarna hitam, dan berbau sehingga sangat tidak layak untuk dipakai.

Namun, Charles Surjadi dari Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Atma Jaya Jakarta pernah menyaksikan warga Penjaringan menyikat gigi dengan menggunakan air yang sangat hitam. Ini terpaksa mereka lakukan karena penghasilan mereka terbatas. Bagi mereka, yang terpenting ialah konsumsi makanan. Padahal, air pun sangat berpengaruh terhadap kesehatan.

Keterbatasan lahan bagi warga yang menyewa rumah petak di wilayah Penjaringan ini memunculkan "bisnis" MCK bagi yang memiliki modal. Bahkan, seorang warga di sana punya MCK umum di lantai dasar rumahnya, sedangkan rumah tinggalnya sendiri berada di lantai atas. Dalam sehari, menurut Aziz, yang bertugas menjaga MCK umum tersebut, penghasilan rata-rata bisa Rp 60.000.

Penyebab utama diare

Hasil riset USAID-ESP yang dipaparkan oleh Nona Pooroe Utomo mengonfirmasikan bahwa perilaku kebersihan dan sanitasi yang buruk menyebabkan diare. Meski demikian, banyak orang cenderung meyakini bahwa penyebabnya adalah hal-hal yang tak terkait dengan perilaku bersih dan sanitasi. Misalnya, keracunan makanan, musim, tanda-tanda pertumbuhan bagi bayi, atau faktor-faktor klenik.

Mereka yang melihat hubungan antara kebersihan dan diare, akan melihat bahwa sampah dan lalat menjadi penyalur penularan diare yang utama. Selain air yang terkontaminasi, penyebab diare antara lain karena masyarakat tidak disiplin menerapkan perilaku bersih. Perilaku umum adalah saat mencuci tangan tidak menggunakan sabun, padahal di tangan mereka banyak kuman yang menempel. Sangat sedikit orangtua yang mengajari anaknya mencuci tangan dengan sabun, terutama di level ekonomi bawah.

Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare. Mencuci makanan mentah adalah hal yang umum dilakukan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, banyak orang melakukannya dengan cara yang tidak benar sehingga berisiko terkontaminasi bakteri kembali. Bahkan, masih ada yang tidak mau mencuci makanan menggunakan air mengalir, tetapi lebih memilih menggunakan air dalam baskom.

Faktor kognitif

Dalam hal pemanfaatan sanitasi, masyarakat umumnya memiliki beberapa pilihan akses, yang digunakan secara bergantian, sebelum dialirkan ke sungai. Khusus bagi masyarakat rural dan peri-urban, meski memiliki toilet di rumah, mereka juga masih memanfaatkan "toilet terbuka", taruhlah seperti sungai atau empang. Faktor kognitif, emosi, dan ekonomilah yang menjadi dasar perilaku ini.

Sejumlah hambatan dalam sanitasi terkuak lewat studi yang dilakukan USAID-ESP. Bahwa masyarakat rural tak memiliki septic tank umumnya karena alasan ekonomi, masyarakat urban tidak menyukai septic tank karena takut terjadi kontaminasi terhadap air tanah serta tidak tersedianya layanan yang baik untuk penyedotan septic tank.

Masyarakat peri-urban menjadikan kepraktisan dan norma umum (semua orang melakukannya) sebagai alasan utama untuk menyalurkan kotorannya ke sungai. Tidak heran jika sungai-sungai di Indonesia bisa disebut sebagai "jamban raksasa" karena masyarakat Indonesia pada umumnya menggunakan sungai untuk buang air.

Masyarakat urban di perkotaan yang tinggal di gang-gang sempit atau rumah-rumah petak di Jakarta umumnya tidak mempunyai lahan besar untuk membangun septic tank. Karena itu, mereka biasanya tak memiliki jamban.

Kalau kemudian mereka memiliki sumur, umumnya banyak sumur yang tidak "berbibir" alias tak diberi pembatas semen. Kala hujan tiba, kotoran yang ada di tanah terbawa oleh air hujan masuk ke dalam sumur. Tidak heran jika kemudian banyak yang terserang diare, terutama anak-anak.

Jadi, benar kiranya pesan kunci dari Laporan Pembangunan Manusia 2006, yang menyatakan bahwa masyarakat miskin membayar lebih banyak untuk air dan tidak tersedianya sanitasi dibayar dengan kematian. Mestinya, masyarakat miskin bisa mendapatkan air gratis....


Penulis: Elok Dyah Messwati
Pasien DBD di Lampung Meningkat Empat Kali Lipat
Laporan Wartawan Kompas Helena Fransisca
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Pasien demam berdarah dengue yang dirawat di sejumlah rumah sakit Bandar Lampung terus bertambah. Sampai dengan tanggal 30 Januari 2007, pasien DBD tercatat 733 orang dengan empat pasien DBD meninggal dunia atau naik empat kali lipat dari periode yang sama Januari 2006, 147 pasien.

Kepala Sub Dinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Lampung Diah Iskraini, Selasa (30/1) mengatakan, dari pasien sejumlah itu, 150 orang sampai hari ini masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Bandar Lampung.

RSU Abdul Moeloek (RSUAM) merawat 54 pasien DBD. RS Advent 29 pasien, RS DKT merawat 14 pasien, RS Urip Sumoharjo merawat 33 pasien, RS Imanuel merawat 14 pasien, RS Bumi Waras merawat 5 pasien, dan RS Graha Husada merawat 17 pasien.

Sementara catatan total sejak awal Januari hingga 30 Januari 2007, RSUAM merawat 90 pasien DBD. RS Advent merawat 200 pasien, RS DKT merawat 39 pasien, RS Urip Sumoharjo merawat 145 pasien, RS Imanuel merawat 139 pasien, RS Bumi Waras merawat 74 pasien, dan RS Graha Husada merawat 54 pasien.
Diah mengatakan, dalam kondisi normal, peningkatan jumlah pasien sekitar 20—25 persen. Sementara saat ini sudah 400 persen dari tahun lalu.

Kebanyakan, pasien DBD yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Bandar Lampung berasal dari Bandar Lampung dan Metro. Ia berharap, upaya Dinas Kesehatan seperti memberantas sarang nyamuk (PSN) di 13 kecamatan di Bandar Lampung bisa bermanfaat untuk menekan jumlah pasien yang terus meningkat.

Direktur RS Imanuel Andreas Andoko secara terpisah mengatakan, kejadian yang merupakan siklus lima tahun sekali ini patut diwaspadai. Jumlah pasien DBD yang dirawat di RS Imanuel saat ini tercatat luar biasa banyak dibandingkan dengan jumlah pasien DBD yang dirawat pada Januari 2006. Untuk itu, pengelola rumah sakit terus menyiagakan dokter dan perawat sampai serangan DBD mereda. ”Harus ada yang siap on call,” katanya.

Manajer Humas RS Imanuel Tri Herlianto mengatakan, dokter dan perawat siap dipanggil itu sangat diperlukan mengingat DBD tidak saja menyerang Lampung, namun sudah meluas hingga ke sejumlah daerah lain di Indonesia. Penyiapan dokter siap panggil menjadikan rumah sakit mampu mengatasi pasien secara cepat. ”Kami sudah kekurangan tempat, meski tidak sampai ke lorong-lorong rumah sakit,” katanya.

Selain menyediakan dokter dan perawat siaga, RS Imanuel juga sudah menyediakan donor darah siaga. Sekitar 200 orang pendonor darah dengan berbagai golongan darah saat ini tercatat dalam database bank donor RS Imanuel. Sehingga setiap kali pasien membutuhkan darah, dengan cepat darah yang dibutuhkan pasien bisa siap.

Kondisi demikian tercatat juga di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bandar Lampung. M Aditia, dokter pada unit transfusi darah PMI Bandar Lampung mengatakan, permintaan kantung darah sejak satu bulan terakhir terus meningkat. Namun demikian, PMI masih bisa memenuhi permintaan tersebut.

Tuesday, January 30, 2007

AIDS Sudah Membunuh 28 Orang di Kaltim
Laporan Wartawan Kompas Ambrosius Harto
SAMARINDA, KOMPAS--Kurun waktu enam tahun terakhir, 28 warga di tiga kota, Balikpapan, Samarinda, dan Bontang di Kalimantan Timur tewas akibat penyakit AIDS.

Data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Timur menyebutkan korban meninggal dari Balikpapan (15), Samarinda (10), dan Bontang (3). Selain itu, kurun sepuluh tahun ini, tercatat 434 kasus dengan jumlah terbanyak dijumpai di Balikpapan (130), Samarinda (96), dan Tarakan (86).

Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penular sel-sel perusak sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh tak mampu lagi menahan serangan penyakit umum. Virus ini menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang membuat orang sangat rentan bahkan bisa meninggal hanya karena penyakit biasa.

“Jika ditemukan satu penderita mengidap HIV/AIDS, bisa diasumsikan kondisi sebenarnya ada 100-200 penderita lagi,” kata Sekretaris Komite Penanggulangan AIDS Daerah Kaltim Abdul Syahrani, Selasa (30/1), di Samarinda.

Jika demikian, dari 434 kasus di Kaltim, jumlah kasus yang mungkin sebenarnya berkisar 43.400-86.800 kasus. Jika asumsi itu benar, berarti 1,4-2,9 persen dari 2,9 juta jiwa penduduk Kaltim bisa diasumsikan terjangkit HIV/AIDS.

“Asumsi itu masuk akal sebab pola penyebaran HIV/AIDS di Kaltim lebih dominan dari pelacuran,” kata Abdul. Dari hasil survei, di Kaltim terdapat sedikitnya 9.000 pelacur yang setiap hari melayani tiga pengunjung.

Jika saja seluruh pelacur dan pengunjung terjangkit, berarti ada 27.000 orang pengidap. “Itu belum termasuk jika pengunjung menularkan kepada istri dan orang lain dengan cara lain,” kata Abdul.

Namun, Abdul juga sepakat bahwa pola penyebaran yang juga dominan berasal dari para pengguna narkotika dengan jarum suntik. Biasanya, pengguna menggunakan jarum suntik yang tidak steril dan digunakan bergiliran sehingga sangat berisiko menularkan HIV.

Abdul mengatakan, prevalensi atau tingkat kerawanan Kaltim terhadap HIV/AIDS tahun 2006 mencapai 6,14 persen. Prevalensi didapat dari perbandingan 189 kasus tahun 2006 dengan 3.074 kalangan berisiko tinggi yakni pelacur serta pengunjung klinik konseling dan testing sukarela (VCT).

“Semakin tinggi persentase prevalensi, penduduk suatu daerah semakin rawan terkena HIV/AIDS,” kata Abdul. Dengan 6,14 persen, menurut Abdul, penduduk Kaltim cukup rawan tertular HIV/AIDS. Untuk penangannya membutuhkan perhatian serius pemerintah provinsi dan berbagai pihak.

Untuk mengetahui kondisi aktual penyebaran HIV/AIDS, perlu lebih banyak survey terhadap kalangan berisiko tinggi dan memaksimalkan peran klinik VCT. Sebagai contoh, catatan lima klinik VCT di Kaltim dikunjungi oleh 6.570 orang kurun 1,5 tahun terakhir. Sebanyak 170 pengunjung di antaranya diketahui positif terjangkit HIV.

Sumber : http://www.kompas.co.id/ver1/Kesehatan/0701/30/161259.htm
Link informasi aids di medicastore.com : http://www.medicastore.com/med/gruphasil.php